Allah, Kapan Giliranku?

Hari ini hari ke sebelas bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah, target mengaji hari ini sudah tercapai, malah lebih hampir setengah juz.  Iseng ku buka Dolphin browser di tab ku, browsing sebentar sambil baringan sepertinya tidak masalah, batinku berbisik. Lagi pula masih jam sembilan malam.

Aku mampir sebentar ke beberapa situs berita berbahasa Indonesia, bosan, lalu aku beralih ke situs berita Indonesia berbahasa Inggris, The Jakarta Post. Aaah, tak lama di sana aku close juga tab di browser , tumben, tidak ada berita yang menarik. Oia, mampir ke facebook ah, lama tak berkunjung, aku bahkkan lupa kapan terkahir kali mengunjunginya. Wah, banyak banget notifikasinya! Aku mulai mengecek satu per satu.

Waah, Adit sudah menikah. Demikian juga Dinda. Mereka menikah di ahad terakhir bulan Sya’ban, beberapa hari sebelum Ramadhan. Aku melewatkan dua invitation yang mereka sampaikan via facebook. Barakallahulaka wa baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair. Semoga Allah memberikan berkah atas kalian dan semoga mengumpulkan kalian dalam kebaikan. Aamiin. Hhh, aku menghela nafas panjang. Berapa undangan lagi yang harus aku terima, kapan giliranku untuk menyampaikan undangan, Ya Allah?

Continue reading

Advertisements

Ayahku Marinir

Ketika masih SLTP dulu, aku terbiasa melakukan handstand ketika merasa ingin menangis. Kata kakak kelasku, ketika handstand posisi kepala kita berada di bawah tubuh kita, maka air mata tak akan jatuh. And it works! Namun, sejak berstatus mahasiswa aku tidak bisa melakukan cara itu lagi, mungkin karena aku yang lupa tekniknya, atau karena tubuhku sekarang terlalu subur untuk melakukannya, haha. Kuhembuskan nafas dalam- dalam agar genangan air di mataku tak sampai jatuh membasahi pipiku.

Kejadian ba’da subuh pagi itu tiba- tiba terlintas di pikiranku. Terekam dengan sangat jelas di benakku ketika mama mengabarkan berita itu.

“Innalillahi,..” aku tidak bisa melanjutan kata- kataku lagi. Dari Sony Ericsson J105i merah-ku terdengar suara mama yang memanggil- manggilku. “Iya ma…”jawabku lirih beberapa detik kemudian. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kapan mama mendapatkan berita tentang ayah ma?”

Selanjutnya yang kudengar adalah mama yang dengan tegar menceritakan bahwa beliau baru saja mendapatkan berita dari komandan ayah, ayah gugur dalam tugas. Sudah sebulan terakhir ini ayahku yang seorang Kapten Marinir mengikuti Latihan Pemantapan Terpadu (Lattapdu) Marinir Wilayah Timur di Banyuwangi. Harusnya hari itu adalah hari terakhir latihan dan besoknya ayah sudah bisa kembali ke Bataliyon I di Tanjung Perak dan lusa cuti selama tiga hari. Aku masih ingat ketika ayah memeluk Satya, adik lelakiku, aku, lalu mama bergantian sebelum berangkat latihan. Bahkan, aku masih bisa merasakan hangatnya pelukannya.

Manusia berencana, Allah- lah yang menentukan, Allah memanggil ayah. Panser amfibi yang dinaiki ayah dan beberapa anggotanya tidak berfungsi dengan baik ketika akan dilakukan pendaratan, dan seluruh awak amfibi harus keluar dari tank yang juga berfungsi sebagai kapal ketika berada di laut itu. Ayah terlambat keluar. Mungkin ayah mendahulukan anak buah- anak buahnya. Wa’allahu ‘alam.

Continue reading