Allah, Kapan Giliranku?

Hari ini hari ke sebelas bulan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah, target mengaji hari ini sudah tercapai, malah lebih hampir setengah juz.  Iseng ku buka Dolphin browser di tab ku, browsing sebentar sambil baringan sepertinya tidak masalah, batinku berbisik. Lagi pula masih jam sembilan malam.

Aku mampir sebentar ke beberapa situs berita berbahasa Indonesia, bosan, lalu aku beralih ke situs berita Indonesia berbahasa Inggris, The Jakarta Post. Aaah, tak lama di sana aku close juga tab di browser , tumben, tidak ada berita yang menarik. Oia, mampir ke facebook ah, lama tak berkunjung, aku bahkkan lupa kapan terkahir kali mengunjunginya. Wah, banyak banget notifikasinya! Aku mulai mengecek satu per satu.

Waah, Adit sudah menikah. Demikian juga Dinda. Mereka menikah di ahad terakhir bulan Sya’ban, beberapa hari sebelum Ramadhan. Aku melewatkan dua invitation yang mereka sampaikan via facebook. Barakallahulaka wa baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair. Semoga Allah memberikan berkah atas kalian dan semoga mengumpulkan kalian dalam kebaikan. Aamiin. Hhh, aku menghela nafas panjang. Berapa undangan lagi yang harus aku terima, kapan giliranku untuk menyampaikan undangan, Ya Allah?

Ku letakkan tab, aku bergegas menuju cermin di dekat lemari bajuku. Aku memang tak secantik Asmirandah, tapi aku cukup manis juga. Aku memang tak selangsing dan semampai model Indah Kalalo, tapi aku cukup tinggi dan bahkan dulu aku termasuk Pasukan Tujuh Belas di Paskibraka Kota-ku. Di usiaku yang ke-27 ini, aku telah mendapatkan gelar master dari sebuah perguruan tinggi di Taiwan. Tentu saja aku mendapatkannya dari beasiswa. Aku sekarang adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta multinasional, dan sudah menjadi karyawan tetap sejak 2,5 tahun lalu. Di lomba tahsin yang diadakan oleh Masjid Istiqlal akhir bulan lalu, Alhamdulillah aku menjadi juara ke-3, satu- satunya perempuan yang termasuk dalam 5 besar. Aku juga selalu menjaga pergaulanku dan sikapku dengan semua lelaki yang ku kenal, entah atasanku, partner kerjaku, maupun teman setimku. Sepertinya Sari tidak lebih pandai mengajinya daripada aku, Fifi juga sepertinya tidak terlalu cantik, tapi, mereka semua sudah menikah. Bahkan kini Sari sedang hamil dan Fifi sudah mempunyai bayi lucu berusia 3 bulan. Astagfirullah! Ya Allah, kenapa aku jadi mebanding- bandingkan dan tidak bersyukur begini. Astagfirullah hal adzim.

Aku kembali ke kasurku dengan sejuta pikiran berkecamuk. Kira- kira apa ya yang dicari oleh para lelaki di luar sana sebagai syarat  menjadi pendamping hidup? Jelas- jelas Rasullullah mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara, kecantikannya, keturunannya, hartanya, serta agamanya  dan yang paling baik adalah memilih karena agamanya.

Bzzz, tab ku bergetar tanda ada pesan masuk. Ada pesan dari group whats app teman- teman akhowat (perempuan) seangkatanku ketika kuliah dulu. Ku baca satu per satu pesan yang masuk ke tab ku.

“Sebuah ringkasan dari Ust. Salim A Fillah, satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki- laki yang mendampinginya. Tahu dari mana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Qur’an, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No! Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.”

Deg, jantungku serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Ku lanjutkan membaca pesan balasan dari temanku yang lain.

Memangnya menikah itu perlombaan lari? Jadi ada yang lambat menikah? Cepat menikah? Semua orang paham bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan. Sayangnya, tetap saja banyak yang mendefinisikan ‘telat menikah’, atau sebaliknya ‘pernikahan dini’. Tidak ada standar kapan harus menikah, karena semua orang khas. Jika tiba masanya, maka pasti akan terjadi”  Kali ini Tere Liye, penulis Bidadari- Bidadari Surga yang angkat bicara.

Deg, kembali aku tertegun membacanya. Tanpa terasa air mata bergulir di pipiku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk wudhu. Terima kasih Allah, Engkau telah mengingatkanku dengan caramu yang indah, terima kasih telah memberiku teman- teman yang menguatkanku, Ya Rahman. Sabarkanlah aku, kuatkanlah aku dan teman- temanku hingga saat kami tiba. Kami akan menjemput berkahmu dengan sabar, Ya Rabb. Astagfirullah, Astagfirullah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Usfarina- Jakarta, 21 Juli 2013

Advertisements

14 thoughts on “Allah, Kapan Giliranku?

    • Astagfirullah. Klo ngmg atau komen sebaiknya dipikir dulu -_- silahkan dibaca kategorinya, jelas- jelas tertulis fiksi. Memangnya penulis harus selalu mengalami yg di dalam cerita? Jika menurut Anda memang begitu tampaknya Anda harus belajar lagi. Dont be short thinking please

      • becanda mbak’e … serius banget … tapi liat ceritanya kyknya terinspirasi dari kisah nyata … misal sepertinya ada seorang teman yang habis juara sekian lomba tahsin AlQur’an kemudian kerja di suatu perusahaan swasta atau yang kuliah s2 di luar negeri … tapi kayaknya yg paskibraka pengalaman penulis sendiri 😛

    • Wiii, maaf ud. Kyknya di bawahnya harus aku kasi tulisan,”cerita ini hanyalah fiksi belaka, jika terjadi kesamaan tokoh, settingm dsb hanyalah kebetulan” piss ud 😀

    • Jgn tny aku, km kan bs berusaha mewujudkannya 😀
      Waa, makasi Pikar, sedang mengumpulkan ide dan tulisan yg berserakan, mulai nulis lg stlh lmyan lama absen. Btw, makasi ya postingmu di fb ttg lomba di nulisbuku.com, aku baca, ikut, dan Alhamdulillah terpilih sbg salah satu yg dibukukan.
      Mariii menulisss 🙂

      • hehe, inggih..

        waaaw selamat mbak! di tiap angkatan ada penulis-penulis berbakat rupanya..
        ikut yang perorangan? judulnya apa? aku juga lolos nulis kolaborasi bareng winona09 😀

        tukeran naskah yuk, minta alamat emailnya mbak.

      • Siip, inggih ya jwbnya, dtggu kbr lbh lnjutnya 😀

        Winona Rianur 09? Ko bs, hwaa, keren2. Iya, aku ikt perorangan, ada di buku ke-12, judulnya Ramadhan Ini Dia Pergi”, naskah lamaku yg ku tulis ulang menjelang deadline, stlh anakku tdr, hehe. Alhamdulillah, mg makin byk yg suka nulis, dan nulis yg bermanfaat 🙂 Pny kalian apa? Aku email ke emailmu yg di sini yaa, dtggu masukannya, aku msih belajar nulis, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s